Apakah Hubungan Senam Dengan Penderita Asthma

MERESUME JURNAL ARTIKEL

“APAKAH  HUBUNGAN SENAM DENGAN PENDERITA ASTHMA”

Dikerjakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi Keperawatan

images 

 

Disusun Oleh:

Tita Syiami Qodriani  220110150055

 

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2016


Asthma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali  bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan.

Senam merupakan suatu cabang olahraga yang melibatkan performa gerakan yang membutuhkan kekuatan, kecepatan, dan keserasian gerakan fisik yang teratur.

Apakah hubungan senam terhadap penderita asthma? Dibawah ini terdapat beberapa jurnal artikel yang meneliti hubungan antara senam terhadap penderita asthma.

Antoro (2015) dalam artikelnya yang berjudul Pengaruh Senam Asthma Terstruktur Terhadap Peningkatan Arus Puncak Ekspirasi ( APE ) Pada Pasien Asthma menjelaskan bagaimana pengaruh senam terhadap peningkatan Arus Puncak Ekspirasi (APE) pada pasien asthma. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimental dengan desain pretest-postest with control group design. Sampel berjumlah 38 responden dipilih menggunakan purposive sampling. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa hasil nilai arus puncak ekspirasi sesudah senam asthma kelompok intervensi senam asthma terstruktur lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol, tidak ada perbedaan yang signifikan rerata arus puncak ekspirasi sesudah senam asthma pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol, hanya usia yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap peningkatan arus puncak ekspirasi (APE), sedangkan jenis kelamin dan pekerjaan tidak memengaruhi. Arah pengaruh usia bersifat negatif yang artinya semakin tinggi usia responden maka semakin rendah peningkatan arus puncak ekspirasi (APE) pada pasien asthma. Penelitian ini menganjurkan petugas kesehatan agar dapat mensosialisasikan serta mengaplikasikan senam terstruktur sebagai salah satu terapi bagi pasien asthma untuk mengoptimalisasikan fungsi paru.

Azhar dan Berawi (2015) dalam artikelnya yang berjudul Hubungan Rutinitas Senam Asthma Terhadap Faal Paru Pada Penderita Asthma menjelaskan bagaimana hubungan rutinitas senam asthma terhadap faal paru pada penderita asthma. Senam asthma bertujuan untuk melatih cara bernafas yang benar, melenturkan dan memperkuat otot pernafasan, melatih ekspektorasi yang efektif, meningkatkan sirkulasi, mempercepat asthma yang terkontrol, mempertahankan asthma yang terkontrol serta kualitas hidup lebih baik. Penelitiannya bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan rutinitas senam asthma terhadap faal paru pada penderita asthma. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan mengkaji studi pustaka. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa ditemukan pengaruh senam asthma terhadap frekuensi kekambuhan asthma bronkial serta hubungan antara sebelum dan setelah mengikuti senam asthma dengan frekuensi kekambuhan penyakit asthma. Penelitian ini menganjurkan peneliti berikutnya agar perlu dilakukannya tinjauan pustaka lebih lanjut dan mendalam mengenai hubungan rutinitas senam asthma terhadap faal paru pada penderita asthma.

Darmayasa (2011) dalam artikelnya yang berjudul Senam Asthma Tiga Kali Seminggu Lebih Meningkatkan Kapasitas Vital Paksa (Kvp) dan Volume Ekspirasi Paksa Detik 1 (Vep 1) Dari Pada Senam Asthma Satu Kali Seminggu Pada Penderita Asthma Persisten Sedang menjelaskan senam asthma tiga kali seminggu lebih meningkatkan Kapasitas Vital Paksa (KVP) dan Volume Ekspirasi Paksa Detik 1 (VEP 1) dari pada senam asthma satu kali seminggu pada penderita asthma persisten sedang. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa dengan senam asthma bagi penderita asthma bisa mengurangi tingkat kekambuhan dan terkontrolnya asthma tersebut. Penelitiannya bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemberian frekuensi senam asthma tiga kali seminggu dengan senam asthma seminggu sekali terhadap peningkatan Kapasitas Vital Paksa (KVP), Volume Ekspirasi Paksa detik 1 (VEP 1) pada penderita asthma persisten sedang diukur menggunakan Spirometry. Metode penelitian yang digunakan adalah Pre test and post test group design. Sampel diambil secara Purposive Sampling dengan kriteria inklusi, eklusi. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa pemberian frekuensi senam asthma tiga kali seminggu dapat meningkatkan KVP, VEP 1, pada penderita asthma persisten sedang, pemberian frekuensi senam asthma seminggu sekali dapat meningkatkan KVP, VEP 1, pada penderita asthma persisten sedang, pemberian frekuensi senam asthma tiga kali seminggu lebih baik daripada frekuensi senam asthma seminggu sekali terhadap peningkatan KVP, VEP 1 pada penderita asthma persisten sedang. Penelitian ini menganjurkan agar fisioterapis maupun mahasiswa fisioterapi dapat mengadakan penelitian lebih lanjut terhadap metode ini untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal dan dapat dijadikan masukan yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sahat, Irawaty, & Hastono (2011) dalam artikelnya yang berjudul Peningkatan Kekuatan Otot Pernapasan dan Fungsi Paru Melalui Senam Asthma Pada Pasien Asthma menjelaskan bagaimana peningkatan kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru melalui senam asthma pada pasien asthma. Yayasan Asthma Indonesia (YAI) telah merancang senam bagi peserta Klub Asthma yang disebut dengan Senam Asthma Indonesia. Tujuannya meningkatkan kemampuan otot-otot yang berkaitan mekanisme pernapasan, meningkatkan kapasitas serta efisiensi dalam proses respirasi/pernapasan. Penelitiannya bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh senam asthma terhadap peningkatan kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru pasien asthma di perkumpulan senam asthma. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain kelompok kontrol. Sampel berjumlah 50 pasien, diambil dengan purposive sampling, dan terdiri atas kelompok intervensi dan kontrol. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa terdapat perbedaan rerata kekuatan otot pernapasan setelah senam asthma antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Selain itu, ada perbedaan rerata fungsi paru setelah senam asthma antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Rerata kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru meningkat setelah pasien melakukan senam asthma. Penelitian ini menganjurkan senam asthma sebaiknya menjadi program intervensi keperawatan pada manajemen asthma untuk dapat meningkatkan kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru pasien asthma.

Handayani (2012) dalam artikelnya yang berjudul Pengaruh Latihan Renang dan Senam Asthma Terhadap Forced Expiratory Volume In 1 Second (FEV1) dan Kadar Hormon Kortisol Pada Penderita Asthma menjelaskan bagaimana pengaruh latihan renang dan senam asthma terhadap Forced Expiratory Volume in 1 second (FEV1) dan kadar hormon kortisol pada penderita asthma. Beberapa latihan yang cocok bagi penderita asthma adalah senam asthma dan renang. Penelitiannya bertujuan untuk mengkaji peningkatan FEV1 akibat latihan renang dan senam asthma pada penderita asthma; mengkaji peningkatan kadar hormon kortisol akibat latihan renang dan senam asthma pada penderita asthma; mengkaji perbedaan peningkatan FEV 1 dan kadar hormon kortisol pada latihan renang dibanding dengan senam asthma pada penderita asthma. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan rancangan penelitian pre-post-test group design. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa latihan renang dan senam asthma dapat meningkatkan FEV1 pada penderita asthma; latihan renang dan senam asthma dapat meningkatkan kadar hormon kortisol pada penderita asthma; peningkatan FEV1 dan kadar hormon kortisol lebih tinggi pada latihan renang dibandingkan senam asthma. Penelitian ini menganjurkan agar penderita asthma untuk selalu melakukan latihan secara rutin dengan memperhatikan frekuensi, intensitas, tipe, dan waktu pelaksanaan latihan sehingga diharapkan penderita asthma dapat mengurangi frekuensi penggunaan obat farmakologis.

Widjanegara dan Ketut Tirtayasa (2015) dalam artikelnya yang berjudul Senam Asthma Mengurangi Kekambuhan dan Meningkatkan Saturasi Oksigen Pada Penderita Asthma Di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar menjelaskan bagaimana senam asthma dapat mengurangi kekambuhan dan meningkatkan saturasi oksigen pada penderita asthma di poliklinik paru rumah sakit umum daerah wangaya denpasar. Senam asthma merupakan salah satu teknik pernafasan abdomen akan dapat meningkatkan udara ekspirasi. Pernafasan abdomen identik dengan pernafasan diafragmatik bermanfaat untuk meningkatkan dan menguatkan diafragma selama pernafasan untuk mencapai peningkatan tekanan intra abdominal. Penelitiannya bertujuan untuk mengetahui apakah senam asthma dapat mengurangi frekuensi kekambuhan, meningkatkan saturasi oksigen dan kebugaran fisik pada penderita asthma di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Pre and Post Test with Control Group Design. Sampel penelitian ini adalah 30 orang penderita asthma, 15 orang penderita asthma dijadikan kelompok perlakuan dan 15 orang penderita asthma dijadikan kelompok kontrol dipilih secara random. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa pelatihan senam asthma dengan durasi 45 menit selama 8 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu dapat menurunkan frekuensi kekambuhan pada penderita asthma, pelatihan senam asthma selama 8 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu dan dengan durasi 45 menit dapat meningkatkan saturasi oksigen pada penderita asthma. Penelitian ini menganjurkan agar pasien asthma jika kondisi penyakit asthma telah terkontrol diharapkan untuk mengikuti senam asthma secara rutin dan teratur sehingga penyakit asthma yang diderita dapat dikendalikan/terkontrol.

Zega, Yunus, & Wiyono (2011) dalam artikelnya yang berjudul Perbandingan Manfaat Klinis Senam Merpati Putih Dengan Senam Asthma Indonesia Pada Penyandang Asthma menjelaskan perbandingan manfaat klinis senam merpati putih dengan senam asthma indonesia pada penyandang asthma. Olahraga juga dapat mengurangi gejala asthma. Berikut studi eksperimental klinis dilakukan untuk mengevaluasi manfaat dari Senam Asthma Indonesia (SAI) dan Merpati Putih Senam (MPS). Penelitiannya bertujuan untuk mengetahui perbandingan manfaat klinis senam merpati putih dengan senam asthma indonesia pada penyandang asthma. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Pre and Post Test with Control Group Design. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa melakukan SAI dan MPS secara teratur selain tidak terjadi EIA juga didapatkan manfaat lain yaitu mengurangi gejala klinis, pemakaian bronkodilator hisap, meningkatkan fungsi paru, menurunkan Hb, Ht, dan eosinofil darah. Senam Asthma Indonesia dianjurkan sebagai pilihan utama kegiatan senam untuk penyandang asthma. Senam MP dapat dianjurkan untuk penyandang asthma dan dapat menjadi pilihan alternatif setelah SAI.

Dari ketujuh penulis jurnal mengenai hubungan antara senam terhadap penderita asthma, dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan metode yang digunakan dalam penelitian, yaitu kuasi eksperimental dengan desain pretest-postest with control group design. Selain itu, terdapat persamaan konsep yang dibahas, yaitu pengaruh senam terhadap penderita asthma. Maka, hasil penelitian didapatkan bahwa hubungan antara senam terhadap penderita asthma memiliki pengaruh yang signifikan, diantaranya hasil nilai arus puncak ekspirasi sesudah senam asthma terstruktur lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum melakukan senam asthma, ditemukan pengaruh senam asthma terhadap frekuensi kekambuhan asthma bronkial serta hubungan antara sebelum dan setelah mengikuti senam asthma dengan frekuensi kekambuhan penyakit asthma, pemberian frekuensi senam asthma tiga kali seminggu lebih baik daripada frekuensi senam asthma seminggu sekali terhadap peningkatan KVP, VEP 1 pada penderita asthma persisten sedang, rerata kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru meningkat setelah pasien melakukan senam asthma, latihan renang dan senam asthma dapat meningkatkan FEV1 pada penderita asthma, pelatihan senam asthma dengan durasi 45 menit selama 8 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu dapat menurunkan frekuensi kekambuhan pada penderita asthma, pelatihan senam asthma selama 8 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu dan dengan durasi 45 menit dapat meningkatkan saturasi oksigen pada penderita asthma, melakukan SAI dan MPS secara teratur selain tidak terjadi EIA juga didapatkan manfaat lain yaitu mengurangi gejala klinis, pemakaian bronkodilator hisap, meningkatkan fungsi paru, menurunkan Hb, Ht, dan eosinofil darah. Senam Asthma Indonesia dianjurkan sebagai pilihan utama kegiatan senam untuk penyandang asthma. Senam MP dapat dianjurkan untuk penyandang asthma dan dapat menjadi pilihan alternatif setelah SAI.

DAFTAR PUSTAKA

Antoro, B. (2015). Pengaruh Senam Asthma Terstruktur Terhadap Peningkatan Arus Puncak Ekspirasi (APE) Pada Pasien Asthma. Jurnal Kesehatan, 4(1), 69–74. Retrieved from http://poltekkes-tjk.ac.id/ejurnal/index.php/JK/article/download/28/26

Azmy Hanima Azhar, K. N. B. (2015). Hubungan Rutinitas Senam Asthma terhadap Faal Paru pada Penderita Asthma. Majority, 4(Desember), 103–107. Retrieved from http://jukeunila.com/wp-content/uploads/2016/02/19.pdf

Darmayasa, I. K. (2011). Senam Asthma Tiga Kali Seminggu Lebih Meningkatkan Kapasitas Vital Paksa (KVP) Dan Volume Ekspirasi Paksa Detik 1 (VEP1) Dari Pada Senam Asthma Satu Kali Seminggu Pada Penderita Asthma Persisten Sedang. 1(1). Retrieved from http://ojs.unud.ac.id/index.php/mifi/article/download/4564/3479

Handayani, R. N. (2012). Pengaruh Latihan Renang dan Senam Asthma Terhadap Forced Expiratory Volume In 1 Secon (FEV1) dan Kadar Hormon Kortisol Pada Penderita Asthma. I(31 Maret), 1–16. Retrieved from http://kesmas.unsoed.ac.id/sites/default/files/file-unggah/rahmaya19.pdf

Sahat, C. S., Irawaty, D., & Hastono, S. P. (2011). Peningkatan Kekuatan Otot Pernapasan dan Fungsi Paru Melalui Senam Asthma Pada Pasien Asthma. Jurnal Keperawatan Indonesia, 14(2), 101–106. Retrieved from http://jki.ui.ac.id/index.php/jki/article/viewFile/316/475

Widjanegara, Ketut Tirtayasa, A. P. (2015). Senam Asthma Mengurangi Kekambuhan dan Meningkatkan Saturasi Oksigen Pada Penderita Asthma Di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denspasar. Sport and Fitness Journal, 3(2), 79–89. Retrieved from http://ojs.unud.ac.id/index.php/sport/article/viewFile/14945/10001

Zega, C. T. A., Yunus, F., & Wiyono, W. H. (2011). Perbandingan Manfaat Klinis Senam Merpati Putih dengan Senam Asthma Indonesia pada Penyandang Asthma. J Respir Indo, 31(2), 72–80. Retrieved from http://www.jurnalrespirologi.org/wp-content/uploads/2012/03/april-2011-30-38.pdf

Silakan klik link di bawah ini untuk mendownload file :

 simforkep_resume-jurnal-artikel_tita-syiami-qodriani

Advertisements

About titasyiamiq

20 y.o. weirdo girl😰
This entry was posted in Tentang Kuliah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s